Pembahasan Jual Beli Dropship dalam Islam

No Dropship

Adanya teknologi komunikasi jarak jauh memunculkan beberapa model jual-beli gaya baru. Asal hukum muamalah termasuk jual beli adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkan. Nah disini Insya Allah mencoba mengupas sedikit tentang Jual Beli Dropship (Drop Shipping).

Jual beli Dropship yang dimaksud disini adalah seseorang penjual kedua membeli barang dari penjual pertama dan langsung mengirimkannya ke pembeli. Sehingga seolah2 pembeli membeli barang dari penjual kedua tetapi barang dikirim langsung dari penjual pertama tanpa konsumen tahu bahwa barang dikirim dari penjual pertama (lihat gambar skema di bawah).

mekanisme dropship

Model jual beli dropship muncul dikarenakan kemudahan dalam berkomunikasi secara jarak jauh. Jual beli dropship biasa terjadi di toko-toko online (toko berbasis situs internet) maupun offline juga loh. Contoh kasus adalah seseorang ‘pedagang A’ mempunyai informasi tentang dimana tempat membeli barang murah untuk produk tertentu di ‘pedagang B’, kemudian menawarkan ke orang lain jika membutuhkan barang tersebut. Setelah ada pesanan, pedagang A menyuruh pedagang B untuk mengirimkan barang ke konsumen dengan syarat jangan dikasih tahu bahwa barang tersebut adalah milik pedangan B.

Jual beli model dropship sebenarnya menguntungkan dua pihak baik penjual pertama dan penjual kedua. Penjual pertama terbantu pemasaran oleh pihak penjual kedua, adapun penjual kedua tidak perlu menyetok barang dan hanya modal komunikasi dengan penjual pertama. Akan tetapi prinsip dalam Islam dalam jual-beli bukan hanya sekedar saling menguntungkan akan tetapi harus sesuai syariat Islam.

Apa dalilnya bahwa Jual Beli Dropship tidak boleh?

Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dan (jika) pihak pembeli memindahkan barang tersebut ke tempat yang tidak menjadi kekuasaan penjual, itu sudah cukup berdasarkan perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

“Artinya : Kami membeli makanan dari Ar-Rukhbaan (para pedagang) secara acak, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami membelinya sampai kami membawanya dari tempat tersebut” [1]

Dan dalam riwayat lain.

“Artinya : Kami di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan, lalu beliau mengutus seseorang kepada kami, yang menyuruh kami memindahkan makanan tersebut dari tempat kami membelinya, ke tempat lain sebelum kami menjualnya kembali”

Dan dalam riwayat lain juga Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata.

“Artinya : Bahwa para sahabat membeli makanan dari para saudagar di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lau beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada mereka yang melarang mereka untuk menjualnya di tempat mereka membelinya, sehingga mereka memindahkan makanan tersebut ke tempat lain agar bisa mejualnya kembali”.

Dan dalam riwayat lain lagi Ibnu Umar Rahiyalahu ‘anhuma berkata.

“Artinya : Aku melihat para sahabat di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mereka membeli makanan secara acak, mereka melarang menjualnya di tempat tersebut sampai mereka memindahkannya”.

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ : لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Dari Hakim bin Hizam, “Beliau berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, ada orang yang mendatangiku. Orang tersebut ingin mengadakan transaksi jual beli, denganku, barang yang belum aku miliki. Bolehkah aku membelikan barang tertentu yang dia inginkan di pasar setelah bertransaksi dengan orang tersebut?’ Kemudian, Nabi bersabda, ‘Janganlah kau menjual barang yang belum kau miliki.'” (HR. Abu Daud, no. 3505; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Perbedaan Jual Beli Dropship dengan jual beli salam

Beberapa pembahasan yang pernah kami baca tentang bolehnya jual beli dropship tercampur definisinya dengan jual beli Salam. Jual beli salam mirip tetapi ada perbedaan dengan jual beli dropship.

Adapun dalil yang membolehkan jual beli salam:

عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: قَدِمَ النبي الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ. فقال: (من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika Nabi  tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda: “Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Persamaan antara jual beli salam dan dropship adalah ketika proses transaksi penjual sama-sama tidak memiliki barang. Perbedaannya adalah saat akan dikirimkan/diserah-terimakan dengan pembeli barang telah dikuasai penuh oleh penjual.

Contohnya: adalah penjual kedua menawarkan barang ke pembeli dimana dia belum memiliki barang tersebut, penjual kedua membeli barang kepada penjual pertama yang memiliki barang dan kemudian mengirimkannya ke pembeli.

Terlihat mirip kan? tapi jika jeli bahwasanya sebelum dikirim penjual kedua telah setidaknya memindahkan barang dari penjual pertama baik dengan cara memegangnya atau bentuk berpindah tangan dari penjual pertama ke penjual kedua. Adapun dropship tidak pernah sekalipun penjual kedua memegang langsung barang yang akan diserah terimakan kepada pembeli.

Dan disinilah perlu diketahui tentang definisi jual beli via online bahwa proses transaksi selesai adalah ketika barang telah sampai kepada pihak pembeli. Jadi jika misal barang saat dikirim hilang maka tanggung jawab masih dipikul pihak penjual online karena barang belum diterima. Jadi kadang ada alasan bagi OS karena mengirim barang menggunakan ekspedisi jadi bahwa itu adalah bukan tanggung jawab penjual maka itu adalah pernyataan yang salah.

__________
Foote Note
[1]. HR Ibnu Hibban XI/357 nomor 4982, dan ini lafazhnya. Muslim III/1161, Ibnu Majah nomor 2229, Al-Bukhari nomor 2167, Abu Dawud nomor 3494